media berita informasi internet terkini

Lahan transmigrasi Air Rengit di Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan

sei rengit palembang
Melanjutkan artikel artikel saya sebelumnya mengenai DESA LIMBANG MULIA yang mana hingga saat ini masih belum ada titik terang untuk kelanjutan masalah desa kami, artikel berikut ini sebenarnya sudah saya simpan sejak lama dan baru sekarang bisa saya publikasikan sebagai berikut.
Banyuasin, Kompas - Lahan transmigrasi Air Rengit di Kecamatan Pangkalan Balai setelah pemekaran sekarang kecamatan berada di SEMBAWA, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, sejak pertama ditempati tidak dapat diolah. Sekitar 2.100 transmigran yang telah menempati kawasan itu sejak tahun 1996 terpaksa meninggalkan lokasi.



Sebagian kecil transmigran yang masih bertahan, menyambung hidup dengan menangkap ikan di rawa-rawa. Ikan yang didapat kemudian dijual kepada tengkulak. Rata-rata satu hari mereka mendapat satu kilogram ikan. Uang yang diperoleh tiap keluarga dari hasil penjualan ikan hanya sebesar Rp 5.000.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Banyuasin Sudirman Tegoeh, Selasa (10/6), mengakui, kondisi warga transmigran di kawasan Air Rengit sudah sangat mengkhawatirkan.

Air Rengit dirancang menjadi kawasan transmigrasi berpola perkebunan kelapa sawit inti rakyat dengan PT Sumber Harapan Sarana (SHS). Namun sejak kawasan transmigrasi itu dibuka, PT SHS justru tidak beroperasi karena terjerat kredit macet.


"Padahal, sebelum diberangkatkan ke sini, kami dijanjikan lahan perkebunan yang sudah ditanami," ujar Muchsinin (33), warga transmigran di Air Rengit, saat ditemui Senin.

Meskipun pola inti rakyat dengan PT SHS sama sekali tidak berjalan, warga masih bertahan hingga tahun 1999 dengan harapan akan ada penanaman modal dari investor baru. Sejumlah warga transmigran yang kebanyakan berasal dari Pulau Jawa mengaku, hanya lahan pekarangan yang pernah diolah untuk mencari penghidupan.

Akan tetapi, lahan pekarangan yang menjadi sandaran hidup para transmigran itu pun tidak lagi dapat diolah sejak akhir tahun 1999. Saluran pengairan di kawasan itu rusak total karena pengendapan yang terlalu tinggi.

Akibatnya, seluruh pekarangan tergenang sepanjang musim hujan. Kadar keasaman tanah yang sangat tinggi tidak lagi dapat teratasi karena arus pencucian tanah terputus. Nyaris tak ada lagi tanaman yang dapat tumbuh di atasnya, kecuali belukar. Sementara di musim kemarau, terjadi kekeringan di kawasan ini.

Menurut pengamatan, sebagian besar saluran pengairan utama, baik saluran navigasi, primer, maupun saluran kebun mampat, tersumbat endapan tanah dan lumpur. Sebagian saluran bahkan "hilang" tertutup semak belukar.

"Baru akhir bulan Mei ini air di pekarangan kami surut. Bukan karena air mengalir, tetapi karena panas terik, tidak ada lagi hujan, genangan air terisap tanah," jelas Muchsinin.

Setelah bertahan hidup dengan genangan air yang tidak surut selama berbulan-bulan, kini warga Air Rengit harus bersiap-siap menghadapi kekeringan.

"Selama ini kami minum dan masak pakai air hujan. Air yang ada di sekitar sini kan masam sekali. Sekarang musim kemarau baru mulai, kami sudah payah cari air untuk minum," keluh Ujang (36), warga transmigran asal Jawa Barat yang tinggal di Air Rengit.

Hidup tak layak

Sekitar 70 persen dari 646 keluarga atau sekitar 3.000 warga transmigran di Air Rengit telah meninggalkan kawasan itu. Mereka mencari penghidupan dengan menjadi buruh kasar di desa-desa sekitar. Kondisi sebagian warga yang masih bertahan di kawasan itu sangat memprihatinkan.

Lokasi transmigrasi Air Rengit yang meliputi tiga desa yakni Limbang Mulia, Suka Makmur, dan Pulau Muning itu nyaris menjadi hamparan semak belukar dan rawa-rawa. 

Rumah-rumah papan yang nyaris rubuh sesekali tampak menyembul di antara belukar itu.

Kebanyakan rumah-rumah itu kosong karena penghuninya sudah meninggalkan lokasi transmigrasi. Sebagian rumah yang lain masih dihuni.

"Padahal, dulu rencananya kami transmigrasi enam atau tujuh tahun itu sudah bisa hidup lebih enak, sudah bisa kaya," ujar Ujang dengan tawa getir.

Warga yang masih bertahan di Air Rengit bertahan hidup dengan mencari ikan gabus atau ikan betok di rawa, sungai kecil, dan bekas saluran air di sekitar kawasan itu. Muchsinin mengungkapkan, sehari ia bisa menangkap satu kilogram ikan.

Ikan-ikan itu kemudian dijual ke tengkulak yang datang ke kawasan itu dengan harga sekitar Rp 5.000 per kilogram. "Harga beras di sini sekitar Rp 2.200, jadi ya mepet buat makan saja," kata ayah dua anak itu.

Sayur yang masih mereka tanam adalah kangkung, sedangkan cabai rawit sebagian ditanam di pot. Begitu genangan air menyusut, mereka menanami bagian tanah yang masih memungkinkan tanaman hidup. Sementara lahan pekarangan yang lama tergenang tak bisa ditanami, cabai rawit bahkan tampak ditanam di tengah jalan permukiman yang sebagian tertutup semak.

Ketika hujan tak lagi tiba, warga mulai resah kesulitan air minum dan masak. "Harga air satu galon isi 20 liter itu Rp 2.500. Ya, nangkap ikan seharian bisa-bisa cuma cukup buat beli satu kilogram beras dan satu galon air. Padahal, kebutuhan orang hidup kan bukan cuma itu," ujar Ujang.

"Bila mereka terus bertahan dalam kondisi seperti sekarang ini bisa terjadi rawan pangan. Jangan sampai ada yang mati kelaparan baru kita ribut," ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Banyuasin Sudirman Tegoeh.

Menurut Sudirman, beragam bantuan sudah diupayakan Pemerintah Kabupaten Banyuasin dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk mengurangi kesengsaraan masyarakat di kawasan itu sejak tahun 1998. Akan tetapi, pembenahan infrastruktur kawasan, terutama saluran-saluran pengairan, tidak mampu didanai pemerintah kabupaten dan provinsi.

"Padahal, kerusakan kawasan itu sudah begitu parah sehingga tanaman apa pun tidak akan bisa dikembangkan di sana sebelum masalah pengairan dibenahi tuntas," jelas Sudirman.

Pembenahan sistem pengairan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuasin memang tidak dilakukan menyeluruh. Sudirman menjelaskan, dari keseluruhan saluran sepanjang hampir 49 kilometer yang perlu direhabilitasi, Kabupaten Banyuasin hanya menganggarkan rehabilitasi untuk 1,6 kilometer saluran pada tahun 2003. Selain pengerukan dan pelebaran saluran, kawasan itu kekurangan pintu-pintu air.

"Sejak November 2002, kami sudah melaporkan permasalahan ini pada Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, akan tetapi belum pernah ada tanggapan nyata. Mungkin karena yang menerima laporan berada di ruang ber-AC ya..," ujar Sudirman prihatin.(abng) www.disnakertrans-jateng.go.id/index.php?xicix=berita&idberita=20030703091216
Tag : banyuasin
0 Komentar untuk "Lahan transmigrasi Air Rengit di Kecamatan Sembawa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan"

.

Back To Top